Jangan Bermain dengan Waktu

MENJADI orang sukses tidak bisa ditentukan oleh orang lain tetapi ditentukan oleh diri sendiri. Kunci utama adalah belajar dengan tekun dan serius menjalani proses pendidikan selama berada di dunia pendidikan.

Pandangan tersebut disampaikan Ketua Badan Pengurus LPMAK, Yohanes Deikme ketika bertatap muka dengan para mahasiswa peserta beasiswa LPMAK wilayah kota studi Jawa Barat dan Jakarta baru-baru ini.

Pertemuan dengan para mahasiswa di seluruh kota studi merupakan bagian dari program monitoring dan evaluasi biro pendidikan yang juga melibatkan  Badan Pengurus dan Badan Musyawarah LPMAK.

Kepala Biro Pendidikan LPMAK, Titus Kemong mengatakan, pertemuan bersama para mahasiswa adalah kegiatan rutin setiap tahun. “Ini pertemuan antara orang tua dan anak sehingga pantas kalau bapak-bapak BP dan BM memberikan nasehat kepada peserta beasiswa agar serius belajar. Begitupun anak-anak silakan menyampaikan masukan kepada BP dan BM sebagai orang tua,” kata Titus mengawali pertemuan tersebut.

Pertemuan serupa juga terjadi untuk peserta beasiswa wilayah kota studi Jawa Tengah dan Jawa Timur yang dipusatkan di Kota Semarang. Anggota BM, Dominicus Mitoro yang hadir pada pertemuan di Semarang mengingatkan peserta beasiswa agar tidak bermain-main dengan waktu.

“Program studi yang sudah ditentukan harus diselesaikan secara baik karena kondisi keuangan LPMAK saat ini ibarat tetesan air yang mengalir. Berbeda dengan waktu lalu, airnya mengalir lancar. Siapa yang main main, tidak tepati waktu, silakan pulang kampung. Patut kita berterimakasih kepada PT Freeport Indonesia sebab dalam kondisi operasional yang belum stabil, masih bisa membantu masyarakat melalui LPMAK untuk program pendidikan dan kesehatan. Pendidikan tidak boleh berhenti sebab masyarakat bisa maju melalui pendidikan. Kampung-kampung di Papua khususnya Mimika belum maju, lantas siapa yang harus membangun kampung-kampung, kalian-kalian yang saat ini sedang kuliah itu yang harus membangun daerah,” pesan Dominicus.

Kepada peserta beasiswa dia juga berpesan, jika ada masalah dengan pendidikan, silakan sampaikan kepada pimpinan-pimpinan yang menjadi mitra lembaga di kota studi sehingga informasi tersebut bisa sampai ke BP dan BM LPMAK.

“Tugas peserta beasiswa adalah belajar dan belajar, jangan ikut kegiatan politik atau kegiatan yang tidak membawa keuntungan bagi perkembangan diri maupun studi. Bersyukur bahwa mayoritas peserta beasiswa adalah anak-anak yang berasal dari keluarga yang kurang mampu tapi anak-anaknya bisa mengenyam pendidikan pada perguruan tinggi ternama di Indonesia,” ujarnya.

Perwakilan PT Freeport Indonesia, Nicole pada kesempatan itu menyampaikan komitmen PTFI dan LPMAK untuk terus membiayai program pendidikan, khususnya program beasiswa. Diharapkan peserta beasiswa memanfaatkan kesempatan itu dengan baik sebab tidak akan terulang kedua kali. Belajar baik untuk masa depan Papua, masa depan Indonesia dan paling penting masa depan diri sendiri.

Menjawab berbagai pertanyaan sejumlah mahasiswa, Wakil Sekretaris Eksekutif LPMAK bidang pendidikan dan kesehatan, Vebian Magal mengatakan tugas pelajar dan mahasiswa yang terdaftar sebagai peserta beasiswa adalah belajar. Semua persoalan yang dihadapi silakan berkoordinasi dengan lembaga mitra yang bekerjasama dengan LPMAK mulai dari kebutuhan hidup sehari-hari sampai masalah kesehatan.

“Intinya LPMAK tidak pernah berpikir untuk mengirim anak-anak studi keluar Papua tanpa memperhatikan semua kebutuhan hidupnya,” tegas Vebian sembari meminta seluruh peserta beasiswa agar tidak cengeng.

Wakil Sekretaris Eksekutif Bidang Aset LPMAK, Ihfa Karupukaro pada kesempatan itu mengatakan,  banyak keluhan yang disampaikan peserta beasiswa adalah hal yang wajar wajar saja sebagai saran masukan. Kendati demikian dia mengingatkan peserta beasiswa agar jangan berharap banyak dari LPMAK untuk ikut menyediakan lapangan pekerjaan.

“Mengenai pertanyaan lapangan kerja yang ditanya ke LPMAK, kalau sudah sukses belajar, kalian sendiri yang menciptakan pekerjaan. Kita punya tanah luas, sumber daya alam tersedia untuk kalian kelola. Belajar tinggi tinggi tapi tidak mampu menciptakan pekerjaan juga percuma. Bersyukur kepada Tuhan karena kalian mendapat beasiswa dan bersyukur juga bahwa masuk dalam fase yang bisa memperoleh beasiswa. Ada anak anak lain yang berjuang setengah mati dan sampai saat ini belum mendapat sekolah yang baik,” pesan Ihfa.

Menurutnya, keberhasilan itu tidak bisa ditentukan oleh orang lain tapi dari diri sendiri. Sebab itu dia meminta peserta beasiswa agar menerima peluang ini sebagai berkat dan hargai orang lain yang sudah membantu peserta beasiswa dalam proses belajar ini.

Paling penting itu taat pada aturan, tambah Ihfa, banyak diantara peserta beasiswa yang melanggar aturan tapi LPMAK masih memberikan kebijakan untuk menyelematkan peserta yang melanggar aturan. (thobias maturbongs)


SEJARAH KAMI

Pemerintah Provinsi Irian Jaya dan PT Freeport Indonesia (PTFI) pada bulan April 1996, memprakarsai suatu rencana pembangunan di kawasan operasi perusahan dengan sasaran utama pada sejumlah Kampung asli Amungme dan Kamoro di seputar kota Timika.

Rencana tersebut tidak berjalan mulus, hingga terbentuklah Program Pengembangan Masyarakat Timika Terpadu (PWT2) yang cakupannya lebih luas meliputi warga suku Amungme dan suku Kamoro serta kekerabatan lima suku yang berdomisili di Mimika.

Lembaga PWT2 telah mengelola Dana Kemitraan PTFI yang dialokasikan sebesar dari 1% penghasilan PTFI sebelum dipotong pajak dan kewajiban lainnya. Dua tahun kemudian pada bulan Agustus 1998, Masa transisi dan reposisi lembaga, di mana seluruh program yang dilakukan PWT2 dihentikan.

Baca selengkapnya ...

HUBUNGI KAMI :
Kantor Pusat (sekretariat) :
Jalan Yos Soedarso (Eks Incubator PTFI) Timika,
Mimika – Papua 99910
Telepon : 0901 – 321521, 322450, 3217563.
Faks : 0901 – 321933, 323505.
Kantor Urusan Program :
Jalan Ahmad Yani, No. 68 A. Timika, Mimika – Papua 99910
Telepon : 0901 – 321817, 322888.
Faks: 0901 – 323318.
Website : www.lpmak.org
Facebook : lpmak
Twitter : @lpmak_
Website: lpmak.org
Peta Lokasi