LPMAK Serahkan 10 Ton Bahan Makanan untuk Asmat

Lembaga Pengembangan Masyarakat Amungme dan Kamoro (LPMAK) menyerahkan bantuan sosial (bansos) pascaberakhirnya kejadian luar biasa (KLB) campak dan gizi buruk di Kabupaten Asmat, untuk mendukung pemulihan kesehatan, pada Rabu (7/2).

Bantuan sosial berupa bahan makanan tambahan gizi sebayak 15 ton diserahkan langsung oleh Wakil Sekretaris Eksekutif LPMAK Bidang Pendukung Program, Kristianus Ukago kepada Koordinator Umum KLB Campak dan Gizi Buruk Keuskupan Asmat, Pastor Hendrik Hada Pr dan disaksikan oleh perwakilan Community Development PT. Freeport Indonesia, Lita Natalia Karubaba.

Kristianus mengatakan bahwa bantuan yang diberikan tersebut merupakan bentuk partisipasi dan kepedulian LPMAK terhadap bencana yang terjadi di Kabupaten Asmat.

“Baru pada pertengahan Januari 2018 ada keputusan dan selanjutnya dilakukan persiapan sehingga kami baru bisa datang sekarang,” kata Kristianus.

Ia mengharapkan agar bantuan yang diberikan tersebut dapat sampai kepada anak-anak yang lapar dan membutuhkan makanan tambahan gizi.

“Semoga dengan bantuan yang diberikan tersebut dapat sedikit mengurangi beban termasuk bantuan-bantuan yang diberikan oleh para pihak lain sejak awal Januari lalu,” ujarnya.

Pastor Hendrik pada kesempatan yang sama mengucapkan terima kasih dan penghargaaan yang sebesar-besarnya kepada pihak LPMAK yang dengan caranya membantu sebagai bentuk kepedulian, solidaritas dan keprihatinan atas peristiwa yang terjadi di Asmat.

“Selama ini memang kami menunggu, bahkan dalam diskusi-diskusi kami bertanya eksistensi Freeport dan lembaga lainnya di bawah Freeport terkait respon terhadap kondisi masyarakat Asmat. Namun pada akhirnya Freeport pada dua pekan lalu telah menyerahkan bantuannya kepada Pemkab Asmat dan pada Selasa ini, LPMAK sebagai pengelolah dana kemitraan turut berbagi bersama kami di Asmat,” tutur Hendrik.

Hendrik menilai kehadiran LPMAK bukan semata-mata sebagai lembaga namun lebih dari pada itu merupakan bentuk kehadiran masyarakat tujuh suku terlebih khusus masyarakat suku Kamoro yang dari berbagai aspek kehidupan sama dengan masyarakat di Kabupaten Asmat.

Sebelunya hampir satu bulan, pada awal Januari 2018 Pemkab Asmat mengumumkan status Kejadian Luar Biasa campak dan gizi buruk di wilayah itu.

Peristiwa yang menyita perhatian Pemerintah dari pusat hingga daerah tersebut juga mendapat dukungan dari berbagai pihak lain yang dengan rela memberikan bantuan kemanusiaan berupa bahan makanan, obat-obatan termasuk tenaga medis.

Akibat dari respon cepat dan partisipasi berbagai pihak tersebut, Bupati Kabupaten Asmat, Elisa Kambu pada Senin (5/2) malam secara resmi mencabut status KLB Campak di wilayah itu.

Pencabutan status tersebut lantaran tidak ditemukanya kasus baru hampir di seluruh wilayah itu oleh tim Satgas yang terdiri dari, TNI, POLRI, Kemenkes ataupun PB IDI.

LPMAK memberikan bantuan berupa bahan makanan sebanyak 10 ton diantaranya kacang hijau, beras merah, beras putih dan susu yang diterima langung oleh Pastor Hendrikus Hada, Pr selaku ketua tim penanganan kasus campak dan gizi buruk di Agats, Asmat. (antara/ferdinand iri)

Bantuan sosial berupa bahan makanan tambahan gizi sebayak 15 ton diserahkan langsung oleh Wakil Sekretaris Eksekutif LPMAK Bidang Pendukung Program, Kristianus Ukago kepada Koordinator Umum KLB Campak dan Gizi Buruk Keuskupan Asmat, Pastor Hendrik Hada Pr dan disaksikan oleh perwakilan Community Development PT. Freeport Indonesia, Lita Natalia Karubaba.

Kristianus mengatakan bahwa bantuan yang diberikan tersebut merupakan bentuk partisipasi dan kepedulian LPMAK terhadap bencana yang terjadi di Kabupaten Asmat.

“Baru pada pertengahan Januari 2018 ada keputusan dan selanjutnya dilakukan persiapan sehingga kami baru bisa datang sekarang,” kata Kristianus.

Ia mengharapkan agar bantuan yang diberikan tersebut dapat sampai kepada anak-anak yang lapar dan membutuhkan makanan tambahan gizi.

“Semoga dengan bantuan yang diberikan tersebut dapat sedikit mengurangi beban termasuk bantuan-bantuan yang diberikan oleh para pihak lain sejak awal Januari lalu,” ujarnya.

Pastor Hendrik pada kesempatan yang sama mengucapkan terima kasih dan penghargaaan yang sebesar-besarnya kepada pihak LPMAK yang dengan caranya membantu sebagai bentuk kepedulian, solidaritas dan keprihatinan atas peristiwa yang terjadi di Asmat.

“Selama ini memang kami menunggu, bahkan dalam diskusi-diskusi kami bertanya eksistensi Freeport dan lembaga lainnya di bawah Freeport terkait respon terhadap kondisi masyarakat Asmat. Namun pada akhirnya Freeport pada dua pekan lalu telah menyerahkan bantuannya kepada Pemkab Asmat dan pada Selasa ini, LPMAK sebagai pengelolah dana kemitraan turut berbagi bersama kami di Asmat,” tutur Hendrik.

Hendrik menilai kehadiran LPMAK bukan semata-mata sebagai lembaga namun lebih dari pada itu merupakan bentuk kehadiran masyarakat tujuh suku terlebih khusus masyarakat suku Kamoro yang dari berbagai aspek kehidupan sama dengan masyarakat di Kabupaten Asmat.

Sebelunya hampir satu bulan, pada awal Januari 2018 Pemkab Asmat mengumumkan status Kejadian Luar Biasa campak dan gizi buruk di wilayah itu.

Peristiwa yang menyita perhatian Pemerintah dari pusat hingga daerah tersebut juga mendapat dukungan dari berbagai pihak lain yang dengan rela memberikan bantuan kemanusiaan berupa bahan makanan, obat-obatan termasuk tenaga medis.

Akibat dari respon cepat dan partisipasi berbagai pihak tersebut, Bupati Kabupaten Asmat, Elisa Kambu pada Senin (5/2) malam secara resmi mencabut status KLB Campak di wilayah itu.

Pencabutan status tersebut lantaran tidak ditemukanya kasus baru hampir di seluruh wilayah itu oleh tim Satgas yang terdiri dari, TNI, POLRI, Kemenkes ataupun PB IDI.

LPMAK memberikan bantuan berupa bahan makanan sebanyak 10 ton diantaranya kacang hijau, beras merah, beras putih dan susu yang diterima langung oleh Pastor Hendrikus Hada, Pr selaku ketua tim penanganan kasus campak dan gizi buruk di Agats, Asmat. (antara/ferdinand iri)

 


SEJARAH KAMI

Pemerintah Provinsi Irian Jaya dan PT Freeport Indonesia (PTFI) pada bulan April 1996, memprakarsai suatu rencana pembangunan di kawasan operasi perusahan dengan sasaran utama pada sejumlah Kampung asli Amungme dan Kamoro di seputar kota Timika.

Rencana tersebut tidak berjalan mulus, hingga terbentuklah Program Pengembangan Masyarakat Timika Terpadu (PWT2) yang cakupannya lebih luas meliputi warga suku Amungme dan suku Kamoro serta kekerabatan lima suku yang berdomisili di Mimika.

Lembaga PWT2 telah mengelola Dana Kemitraan PTFI yang dialokasikan sebesar dari 1% penghasilan PTFI sebelum dipotong pajak dan kewajiban lainnya. Dua tahun kemudian pada bulan Agustus 1998, Masa transisi dan reposisi lembaga, di mana seluruh program yang dilakukan PWT2 dihentikan.

Baca selengkapnya ...

HUBUNGI KAMI :
Kantor Pusat (sekretariat) :
Jalan Yos Soedarso (Eks Incubator PTFI) Timika,
Mimika – Papua 99910
Telepon : 0901 – 321521, 322450, 3217563.
Faks : 0901 – 321933, 323505.
Kantor Urusan Program :
Jalan Ahmad Yani, No. 68 A. Timika, Mimika – Papua 99910
Telepon : 0901 – 321817, 322888.
Faks: 0901 – 323318.
Website : www.lpmak.org
Facebook : lpmak
Twitter : @lpmak_
Website: lpmak.org
Peta Lokasi